Sejarah Desa Cihaur di Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, berakar erat dari asal-usul penamaannya secara etimologi Sunda serta keterkaitannya dengan sejarah panjang Manonjaya sebagai bekas pusat pemerintahan (ibu kota) Kadipaten Sukapura.
Asal-usul Nama Desa Cihaur
Secara etimologi, nama Cihaur berasal dari dua kata dalam bahasa Sunda:
-
Ci / Cik: Singkatan dari banyu atau banyu/cai (air/sungai).
-
Haur: Jenis bambu besar atau bambu kuning/hijau (Bambusa vulgaris) yang dahulu tumbuh subur dan merimbun di sepanjang aliran sungai serta pemukiman warga setempat.
Pemberian nama pemukiman berbasis bentang alam (toponimi) seperti ini merupakan tradisi masyarakat Sunda purba untuk menandai daerah yang kaya akan sumber air dan rumpun bambu haur yang dimanfaatkan untuk bahan bangunan, benteng alam, serta alat rumah tangga.
Keterkaitan dengan Karesidenan & Kadipaten Sukapura
Wilayah Cihaur tidak dapat dipisahkan dari sejarah Manonjaya yang menjadi ibu kota Kadipaten Sukapura pada abad ke-19 (1832–1901) di bawah kepemimpinan Bupati Wiradadaha VIII (R.T. Danuningrat).
-
Jalur Penyangga Ibu Kota Kadipaten: Pada masa kejayaan Sukapura di Manonjaya, daerah sekitar seperti Cihaur berfungsi sebagai daerah agraris penyangga (hinterland) yang menopang kebutuhan pangan dan logistik pusat kadipaten.
-
Kawasan Pembukaan Lahan (Ngarajah/Ngarumat Lembur): Cihaur berkembang dari sebuah permukiman (pundukan/kedusunan) kuno yang dibuka oleh para tokoh agama dan sesepuh lokal yang berafiliasi dengan ulama-ulama penyebar Islam di kawasan Manonjaya dan Sukaraja.
-
Pemekaran Administrasi Desa: Seiring berjalannya waktu dan penataan sistem pemerintahan desa pada era kolonial hingga kemerdekaan, Cihaur ditetapkan secara resmi sebagai desa definitif untuk mempermudah tata kelola wilayah dan pertanian warga.